Rapat Kenaikan Kelas 2009

rapatsiswaHari ini, Selasa, 16 Juni 2009 – Seperti layaknya sebuah rapat, maka Tak mau terjebak dalam suasana basa-basi, rapat langsung untuk membahas kriteria kenaikan kelas, baik yang berkaitan dengan masalah akademik maupun non-akademik. Setelah disepakati, rapat langsung terfokus untuk membahas laporan setiap wali kelas, khususnya bagi anak-anak yang dinilai bermasalah. Dari  kelas 7, tampaknya hanya 3 siswa kelas VII yang “dihuni” siswa bermasalah selama 1 tahun pelajaran. Kecuali wali kelasnya, tak seorang pun yang berupaya melakukan “pembelaan” siswa bermasalah ini.

Namun, persoalan ternyata melebar. Setelah usut sana usut ini, ada juga 3 penghuni kelas VIII lain yang diduga bermasalah, yakni Berdasarkan pengamatan para guru para siswa ini masih baik perilakunya, dengan siswa sebelumnya. Repotnya lagi, hampir semua guru menyuarakan “pencitraan” yang (nyaris) sama, “tidak naik”, “mbolosan”. Jadilah, rapat kenaikan kelas itu jadi ajang “pencitraan” dan “pembunuhan” karakter terhadap siswa tertentu yang dinilai telah bermasalah.

Maka, ketika acara inti sampai pada titik klimaks, keputusan penting dan krusial pun harus diambil. Secara kelembagaan, 3 siswa dari kelas 7 dan 1 siswa dari kelas 8 tersebut terpaksa harus tinggal di kelasnya. “Wibawa sekolah harus mulai dibangun. Kita harus bersikap tegas untuk memberikan efek jera kepada anak-anak yang sikap, perilaku, dan budi pekertinya kurang begitu baik”. Walhasil, lantaran mayoritas rekan sejawat telah benar-benar bulat untuk tidak menaikkan kedua siswa bermasalah tersebut,akhirnya keputusan alot diantara yg hadir dalam rapat tersebut, adalah tidak naik Kelas.

Ya, perkara naik atau tidak naik kelas, memang merupakan hal yang wajar terjadi dalam dunia persekolahan. Namun, disadari atau tidak, hal itu akan memberikan efek sosio-psikologis yang tidak sepele bagi anak.

Secara sosial, mereka telah tercitrakan sebagai anak berkemampuan rendah dengan tingkat intensitas kenakalan yang tinggi. Sedangkan, secara psikologis akan memberikan dampak “inferioraitas” dalam jiwa dan kepribadian anak.

Selain itu, mesti dihindari adanya upaya pencitraan dan pembunuhan karakter anak yang mengarah pada sentimen dan dendam pribadi dari seorang pendidik. Secara jujur mesti diakui, tak jarang rapat kenaikan kelas dijadikan sebagai ajang untuk “membunuh” potensi anak tertentu yang pernah bikin masalah dengan guru tertentu. Lantaran dinilai tidak patuh dan suka membangkang terhadap guru tertentu,mbolosan dan tidak aktif, anak yang bersangkutan telah dicitrakan secara negatif di depan guru-guru yang lain sehingga dengan sendirinya akan ikut menggiring guru-guru yang lain untuk ikut memvonis si anak sebagai anak yang bandel, susah diatur, dan keras kepala.

Akan tetapi, sebagaimana sebuah rapat, apa pun keputusan yang telah ditetapkan, “wajib” hukumnya untuk dipatuhi. akhirnya rapat yang sedikit tegang dan memanas itu selesai sebelum jam 12.00.

Wassalam,

One Response to “ Rapat Kenaikan Kelas 2009 ”

  1. wah ternyata dibalik rapat kenaikan kelas terdapat hal sepert ini,
    untung banget dah bisa baca artikelnya jadi bisa tahu deh.
    thx lo

Leave a Reply